WhatsApp Tambah Fitur Perlindungan, Blokir 6,8 Juta Akun
WHATSAPP mengumumkan peluncuran sejumlah fiturkeamanan terbaru yang dibuat untuk membantu pengguna mengenalipenipuan. Penyedia platformpesan ini telah menghentikan lebih dari 6,8 juta akun yang terkait dengan pusat-pusat kejahatan penipuan yang menargetkan pengguna di berbagai negara.
Fitur-fitur terbaru ini dirancang untuk memperkuat perlindungan pengguna dalam percakapan baik di grup maupun pribadi. Dalam obrolan grup, WhatsApp memperkenalkan fitursafety overview, yang muncul ketika pengguna ditambahkan ke grup oleh seseorang yang tidak ada dalam daftar kontak mereka.
Fitur keamanan ini menyajikan informasi penting tentang grup tersebut serta petunjuk untuk memastikan keamanan pengguna. Dengan demikian, pengguna dapat membedakan antara kontak pribadi dan yang tidak dikenal, atau jika ada anggota grup lain yang sudah dikenal. Sebelum membuat keputusan untuk bergabung, semua notifikasi dari grup tersebut akan di nonaktifkan.
Dalam percakapan pribadi, WhatsApp memberi peringatan bahwa para penipu sering memulai komunikasi melaluiplatformselain itu, sebelum mengarahkan korban ke layanan pesan pribadi. Untuk mengatasi cara ini, WhatsApp sedang menguji fitur peringatan baru bagi pengguna yang ingin memulai percakapan dengan seseorang yang bukan termasuk kontak mereka. Entitas yang di bawah naungan Meta ini menampilkan informasi tambahan mengenai identitas orang yang dihubungi.
Di dalam unggahan blog, WhatsApp juga menyampaikan data mengenai kemitraannya dengan OpenAI dalam upaya mengatasi penipuan. Dalam pencarian tim, ditemukan bahwa kontak-kontak yang menjadi sumber penipuan berasal dari Kamboja.
Terdapat berbagai cara yang digunakan. “Mulai dari menawarkan pembayaran untuklikepalsu, merekrut seseorang ke dalam skema piramida penyewaan sepeda motor, atau mengajak orang untuk berinvestasi dalam mata uang kripto,” demikian isi pernyataan resmi WhatsApp, dilansir dariTech Crunchpada hari Selasa, 5 Agustus 2025.
Dikonfirmasi oleh OpenAI, para penipu terbukti memanfaatkan ChatGPT untuk membuat pesan teks awal yang berisi tautan ke percakapan WhatsApp. Pelaku kemudian langsung mengarahkan korban ke Telegram, selanjutnya meminta korban untuk menyukai video di TikTok.
Pelaku penipuan, dalam temuan tersebut, berupaya menciptakan kepercayaan terkait keberhasilan modus yang digunakan. Korban kemudian akan diminta untuk menyetor uang ke rekening kripto dengan alasan tugas selanjutnya.
Agar terhindar dari penipuan, WhatsApp menyarankan pengguna untuk tidak langsung merespons pesan yang mencurigakan. Sebaliknya, pengguna diimbau untuk mengambil waktu dan mempertimbangkan apakah permintaan yang diterima terdengar wajar dan logis.
Jika pengirim pesan mengklaim sebagai teman atau anggota keluarga, pengguna WhatsApp disarankan untuk memastikan keaslian identitas melalui cara komunikasi lain. Langkah-langkah ini diharapkan mampu mencegah tindakan cepat yang sering diminta oleh pelaku penipuan.
