Berita Terbaru

Subaru Tetap Dirakit di Jepang, Pabrik Lokal Bisa Terwujud Jika Penjualan Meningkat

Subaru Tetap Dirakit di Jepang, Pabrik Lokal Bisa Terwujud Jika Penjualan Meningkat


Priangan Insider

– Kabar soal Subaru yang masih mengandalkan unit CBU (Completely Built-Up) dari Jepang untuk pasar Indonesia bikin banyak pecinta mobil penasaran: kapan brand ikonik ini bakal mulai produksi lokal?

Jawabannya simpel, tapi dalam: tergantung angka penjualan. Jadi, kalau kamu salah satu fans Subaru yang nunggu versi CKD (Completely Knocked Down), saatnya ambil bagian buat bikin angka naik.

Sejak resmi balik lagi ke pasar otomotif Indonesia pada 2022 lewat Plaza Subaru, seluruh line-up yang dijual mulai dari Subaru Forester, Subaru WRX, hingga Outback masih full impor dari Jepang.

Secara kualitas, ini jelas jaminan mutu. Tapi, dari sisi harga dan daya saing di pasar, posisi CBU bikin Subaru agak tertahan untuk bermain di segmen volume yang lebih luas.

Arie Christopher, Direktur Utama Plaza Subaru, secara terbuka menyatakan bahwa pihaknya terbuka terhadap peluang produksi lokal.

Tapi bukan sekarang. Alasannya jelas dan masuk akal: investasi produksi lokal butuh modal besar, logistik yang kuat, serta yang paling krusial pasar yang cukup stabil dan menjanjikan.


“Semua itu kembali ke volume,”

ujarnya dalam salah satu pernyataan belum lama ini.

Artinya, jika penjualan Subaru di Indonesia bisa terus tumbuh dan menunjukkan potensi jangka panjang, produksi lokal bisa mulai dilirik secara serius. Tapi kalau angka masih tipis, bikin pabrik hanya akan jadi beban operasional.

Kondisi ini nggak aneh di dunia otomotif. Banyak merek global menunggu sampai mereka punya angka penjualan yang cukup tinggi sebelum mulai rakit lokal.

Dan Subaru, dengan positioning sebagai brand niche dengan teknologi unik seperti sistem Symmetrical All-Wheel Drive dan mesin Boxer, masih membangun pijakan pasar yang kuat.

Saat ini, strategi Subaru Indonesia lebih ke pembangunan fondasi. Mereka gencar memperluas jaringan dealer resmi di berbagai kota besar dan meningkatkan kualitas layanan purna jual.

Semua ini bagian dari rencana jangka panjang untuk membangun loyalitas konsumen dan memperkenalkan kembali DNA Subaru ke pasar yang sempat ditinggalkan.

Subaru juga menyadari bahwa selera konsumen Indonesia sedang mengarah ke mobil SUV yang tangguh tapi tetap nyaman untuk dipakai harian.

Forester, sebagai andalan utama, jadi ujung tombak untuk menarik perhatian pasar. Sementara WRX dan Outback lebih membidik penggemar performa dan lifestyle yang spesifik.

Kalau bicara soal peluang produksi lokal, beberapa hal sudah mulai terbuka. Infrastruktur otomotif di Indonesia makin berkembang.

Ada kawasan industri otomotif di Karawang, Bekasi, hingga Jawa Tengah yang sudah siap menampung investasi manufaktur baru.

Jika Subaru bisa mencapai target volume tertentu, bukan hal yang mustahil melihat mobil-mobil mereka dirakit di pabrik dalam negeri.

Namun, langkah ke sana nggak bisa instan. Butuh waktu, konsistensi, dan dukungan pasar. Karena itu, jika masyarakat Indonesia benar-benar ingin Subaru lebih terjangkau dan lebih dekat, mendukung penjualannya lewat pembelian unit resmi jadi langkah awal yang sangat berarti.

Kesimpulannya, Subaru Indonesia memang masih main aman dengan skema CBU. Tapi mereka nggak menutup mata terhadap potensi pasar lokal.

Selama konsumen terus antusias dan angka penjualan naik signifikan, rencana produksi lokal bukan cuma wacana kosong tapi peluang nyata yang bisa terjadi dalam beberapa tahun ke depan.

Subaru memang nggak main volume kayak merek Jepang lainnya, tapi justru karena itu, langkah mereka selalu terukur.

Kalau kamu salah satu yang pengin WRX rakitan Indonesia, saatnya ikut jadi bagian dari perjalanan panjang ini. (***)

Bagikan Artikel

Berita Terkait