Starlink Tak Terkalahkan! Internet Taara 100 Kali Lebih Cepat dari Satelit LEO Elon Musk
laksamana.id -, JAKARTA— Internetmemasuki tahap baru dengan kedatangan Taara, solusi koneksi kecepatan tinggi yang mampu bersaing dengan layanan satelit sepertiStarlink.
Mengutip situs resmi Taara, Senin (28/7/2025), berbeda dengan Starlink yang memanfaatkan jaringan satelit di orbit,
Taara memanfaatkan sinar cahaya untuk mengirimkan data dalam jumlah besar antara dua perangkat kecil.
Sistem dua cermin yang digabungkan dengan algoritma prediksi memastikan cahaya tetap sejajar dengan akurasi tinggi.
Taara Lightbridge diklaim mampu mengirim data secepat cahaya, memberikan komunikasi dua arah yang lancar untuk koneksi berkinerja tinggi dengan kecepatan 20 Gbps. Teknologi ini disebut mampu mencapai jarak hingga 20 kilometer secara aman, sambil mempertahankan koneksi yang tetap stabil dan handal.
Dengan konsumsi daya yang setara dengan lampu bohlam 40 W, perangkat ini bisa dipasang dalam waktu beberapa jam tanpa perlu menggali tanah, mengajukan lisensi spektrum, atau izin jalur. Taara diklaim mampu memberikan koneksi dengan tingkat keandalan sebesar 99,99%.
Arsitektur hibrida serta pengaturan kecepatan yang dapat menyesuaikan diri memastikan koneksi tetap stabil di berbagai kondisi cuaca, baik saat hujan, cerah, maupun berkabut.
Taara dibuat di bawah pusat inovasi lab X Alphabet, Google. Proyek ini diperkenalkan sekitar pertengahan Maret 2025.
Saat itu, CEO Taara, Mahesh Krishnaswamy, mengumumkan bahwa perusahaan mereka telah memperoleh pendanaan dari Series X Capital guna memperluas jangkauan dan pengembangan teknologi komunikasi optik nirkabel yang berbasis cahaya. Teknologi ini mampu menyediakan koneksi internet kecepatan tinggi dengan kapasitas besar melalui sinar cahaya hingga jarak 20 kilometer.
“Taara lahir berdasarkan inspirasi dari proyek Loon, dan sejak awal, kami berkomitmen untuk menguji teknologi ini secara langsung di lapangan bersama mitra internasional,” ujar Krishnaswamy.
Krishnaswamy menekankan bahwa kebutuhan akan data semakin meningkat, tetapi pemasangan kabel serat optik sering kali mahal, rumit, atau bahkan tidak dapat dilakukan akibat kondisi geografis. Di sinilah teknologi Taara muncul sebagai jawaban.
Menggunakan cahaya yang dipancarkan antar menara, sistem ini mampu menyediakan kecepatan hingga 20 gigabit per detik tanpa perlu menggali tanah atau memasang kabel bawah laut. Perangkat mereka, yang disebut Lightbridge, hanya memerlukan beberapa jam untuk dipasang dan mampu mencakup area-area yang sebelumnya sulit dijangkau.
Meskipun teknologi Taara berbeda dengan sistem satelit milik Starlink, Krishnaswamy yakin Taara dapat menjadi saingan yang sangat berarti.
“Kami mampu menyediakan bandwidth 10 hingga 100 kali lebih besar dibanding antena Starlink, serta harganya jauh lebih terjangkau,” ujarnya kepada Wired.
Saat ini, Taara telah mengoperasikan ratusan unit di lebih dari 12 negara, bekerja sama dengan berbagai operator besar seperti Airtel, Liquid Intelligent Technologies, Liberty Networks, T-Mobile, dan Vodafone. Taara merupakan kelanjutan dari semangat inovatif Proyek Loon, yang sebelumnya menggunakan balon udara di stratosfer untuk menyebarkan internet ke daerah terpencil.
Meski Loon dihentikan oleh Alphabet pada Januari 2021, teknologi lasernya kini menjadi inti dari sistem komunikasi optik yang dimiliki Taara. Selain Taara, warisan teknologi Loon juga diambil alih oleh Aalyria, perusahaan lain yang juga dipisahkan dari Alphabet pada tahun 2022.
Aalyria mengedepankan pengaturan jaringan mesh dari satelit dan kendaraan udara, guna membentuk sistem koneksi yang mampu mencakup wilayah tanpa adanya infrastruktur internet.
