Nasi Gandul, Rasa Khas Pati yang Menggugah Selera
Jujur, saya belum pernah mengunjungi Pati, Jawa Tengah secara khusus, karena belum ada keperluan. Paling hanya melewati saat pergi ke Tuban, atau saat pulang dari Rembang menuju Semarang.
Namun, saya mengenal masakan khas Pati, yaitu Nasi Gandul, untuk pertama kalinya di Cirebon. Penampilannya berupa nasi yang disajikan dengan sup daging atau organ sapi. Rasanya merupakan kombinasi antara asin, manis, dan gurih.
Terdapat tiga pilihan di dalam daftar menu, yaitu daging saja, jeroan saja, atau campuran.
Saya terkesan dengan metode penyajian yang menarik, di mana piring dibungkus dengan daun pisang sebelum nasi dan kuah dituangkan. Menurut penjualnya, penggunaan daun pisang ini memberikan aroma harum pada Nasi Gandul.
Nasi Gandul disajikan dengan nasi putih yang diberi santan, lalu dituangkan kuah kental berwarna coklat tua yang mengandung potongan daging atau organ sapi. Menurut penjualnya, kuah ini dibuat dari campuran rempah-rempah seperti bawang (merah dan putih), jahe, lengkuas, serta kemiri. Jika pada umumnya hidangan biasanya diberi taburan bawang goreng, Nasi Gandul juga diberi bawang goreng serta kacang tanah yang digoreng dan dihancurkan halus.
Selain piring yang menggunakan daun pisang sebagai alas, Nasi Gandul aslinya disajikan dengan suru, yaitu selembar daun pisang yang dilipat dan berfungsi sebagai alat makan. Namun tidak perlu khawatir, saat ini penjual Nasi Gandul juga menyediakan sendok biasa.
Mengapa namanya Nasi Gandul?
Berdasarkan penjelasan dari penjual yang merupakan penduduk asli Pati, terdapat dua versi mengenai penggunaan nama tersebut.
Pertama kali, nasi dan kuah terlihat mengambang di atas piring. Oleh karena itu, orang menyebut nasi dan lauk yang tampak menggantung atau mengambang ini dengan istilah dalam bahasa Jawa: “Gandul”.
Saat versi kedua, hidangan ini selalu dijual dari desa ke desa dengan cara dibawa di punggung. Ujung kiri berisi nasi dan piring, sedangkan ujung kanan berisi wadah kaldu beserta isinya. Oleh karena itu, masyarakat menyebutnya “Nasi Gandul”.
Diperkirakan makanan ini mulai dikenal sejak tahun 1950. Jika lauk dirasa kurang, dapat ditambahkan telur rebus atau tempe goreng / bacem.
Semoga tulisan ini mengingatkan Pak Didiek Setyadi tentang lezatnya Nasi Gandul dan memakannya kembali untuk “tomo kangen”.
