Berita Terbaru

Hannah Al Rashid: Pembahasan Fertilitas Tak Boleh Dihindari

Hannah Al Rashid: Pembahasan Fertilitas Tak Boleh Dihindari

, Jakarta – Aktris Hannah Al Rashid menekankan pentingnya membahas isu kesuburan di kalangan wanita tanpa merasa malu. Hal ini disampaikannya agar diskusi tentang kesuburan yang berkaitan dengan perjuangan perempuan menjadi ruang yang nyaman. “Kita tidak pernah bisa membicarakan ruang aman jika isu-isu yang problematis tidak dibahas terlebih dahulu,” katanya kepadaTempo pada XXI Plaza Senayan pada Jumat, 11 Juli 2025.

Hannah Al Rashid Berbicara Mengenai Fertilitas

Aktor berusia 39 tahun tersebut mengungkapkan, sering kali menghadapi situasi di mana isu kesuburan dianggap sebagai hal yang tidak pantas atau memalukan bagi perempuan. Akibatnya, menurutnya, perempuan menjalani masalah ini sendirian tanpa bisa berbagi dengan orang-orang terdekat. “Padahal sebenarnya jutaan perempuan di luar sana juga mengalaminya, dan betapa pentingnya memiliki sistem dukungan,” ujarnya.

Hannah yang akan tampil dalam filmLyora: Penantian Buah Hatiitu menyatakan masyarakat perlu meninjau kembali cara berinteraksi dengan perempuan yang sudah menikah tetapi belum memiliki anak. Pertanyaan-pertanyaan klise seperti, “Kapan punya anak?” menurutnya perlu diperhatikan secara lebih mendalam. “Kita tidak pernah tahu, orang mungkin sedang mengalami apa, dan sedang berjuang apa. Jadi harus belajar untuk bersimpati dan menghargai perjuangan orang lain,” katanya.

Selain itu, aktor filmAruna dan Lidahnya Hal itu juga menyentuh isu tentang upaya memiliki keturunan melalui cara yang tidak biasa, yang masih dianggap tabu dalam masyarakat. Sementara itu, teknologi hadir untuk membantu perempuan dalam menjalani peran tersebut. “Bagi teman-teman di luar sana yang melihat ada opsi-opsi lain atau setidaknya mencoba untuk mengecek apakah secara medis ada kemungkinan, daripada terus merasa harus bertanggung jawab sendiri,” katanya.

Tentang Lyora: Penantian Buah Hati

Diskusi tentang kesuburan terkait dengan film terbarunya yang berjudulLyora: Penantian Buah Hati yang akan tayang di bioskop Indonesia pada 7 Agustus mendatang. Saat membaca naskah yang diberikan oleh produser, ia merasa sangat terhubung dengan alur ceritanya. “Aku pernah mengalami perjuangan berat untuk memiliki anak, pernah mengalami keguguran dan memang perjuangan untuk bisa menjadi seorang ibu, itu aku paham benar apa yang dirasakan Meutya (karakter film),” katanya.

Menurutnya, film ini mencerminkan sebagian dari perjalanan hidupnya, namun justru melalui tokoh yang tidak ia mainkan. Ia justru merasa bersyukur karena dirinya tidak memerankan karakter Meutya yang diperankan oleh Marsha Timothy. “Selain aku pernah mengalaminya, jutaan perempuan di Indonesia juga merasakan hal yang sama. Film ini memberikan harapan dan semoga bisa juga menjadi semangat bagi teman-teman lain yang terus berjuang,” kata Hannah.

Oleh karena itu, ia merasa film ini penting karena mengangkat isu yang jarang dibicarakan, sehingga memberi harapan kepada orang lain dan menciptakan ruang aman untuk menjadi topik diskusi. “Ini sebenarnya sangat umum, dan juga menunjukkan bahwa perempuan tidak boleh memikul beban ini sendirian,” katanya.

Peran Fajrie sebagai suami Meutya yang dimainkan oleh Darius Sinathrya juga layak mendapat perhatian. Ia menekankan pentingnya memiliki pasangan yang saling memahami dan bekerja sama. “Menonton film ini bersama calon pasangan, agar bisa melihat maksudnya kita saat memasuki pernikahan, pernikahan itu sangat berat terlebih jika dihadapkan dengan masalah kesuburan,” katanya.

Bagikan Artikel

Berita Terkait