5 Kasus Kerusakan Lingkungan Akibat Kegiatan Pertambangan di Indonesia
Tekno
,
Jakarta
– Di berbagai wilayah Indonesia, aktivitas pertambangan kerap menimbulkan dampak serius terhadap
kerusakan lingkungan
. Beberapa dampak tersebut juga mengganggu aktivitas sosial masyarakat setempat. Berikut berbagai kasus pencemaran lingkungan akibat pertambangan di Indonesia.
1. Pencemaran Teluk PT Newmont Minahasa Raya
Di Teluk Buyat, Sulawesi Utara, pada awal 2000-an, pencemaran akibat tailing tambang emas milik
PT Newmont Minahasa Raya
menyebabkan kasus keracunan logam berat seperti arsenik dan merkuri. Warga mengeluhkan gangguan kulit, masalah saraf, dan munculnya benjolan pada tubuh. Walau pihak perusahaan sempat menyangkal, investigasi independen menunjukkan pencemaran signifikan di sedimen dan biota laut sekitar.
2. Pencemaran Sungai PT Freeport
Di Papua, tambang raksasa PT Freeport Indonesia menghadirkan paradoks besar. Di satu sisi, tambang ini menyumbang devisa dan pajak yang signifikan bagi negara, namun di sisi lain, operasinya menciptakan kerusakan ekologi yang luar biasa. Setiap harinya, perusahaan membuang jutaan ton tailing ke Sungai Ajkwa, yang mengalir melewati hutan-hutan dataran rendah Papua.
Akibatnya, lahan basah dan sungai-sungai menghilang, berganti lumpur tebal yang tidak bisa ditanami. Warga asli suku Kamoro yang hidup berdampingan dengan sungai selama ratusan tahun, kini terdesak dan kehilangan akses terhadap pangan, air bersih, dan wilayah adat.
3. Pencemaran Teluk Weda
Hasil penelitian Nexus3 Foundation dan Universitas Tadulako membuktikan Sungai Ake Jira dan Ake Sagea yang berada di Teluk Weda, Halmahera Tengah, Maluku Utara, telah tercemar logam berat. Pengujian terhadap sampel air sungai menunjukkan kadar logam berat di sana, yaitu kromium dan nikel, melebihi standar Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat atau US Environmental Protection Agency (USEPA).
Air sungai Ake Jira yang berwarna coklat-oranye mengandung merkuri, nikel, kadmium, dan kromium. Sedangkan sedimennya mengandung nikel, besi, kadmium, kobalt, dan kromium. Warna oranye pada air sungai kemungkinan disebabkan oleh mineral besi. emuan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat Weda yang selama ini mengandalkan air sungai sebagai sumber air minum.
4. Pencemaran Laut di Raja Ampat
Kepala Global Greenpeace untuk Kampanye Hutan Indonesia, Kiki Taufik, mengatakan bahwa penambangan nikel di Papua bakal mengancam keberlangsungan keanekaragaman hayati dan ekowisata masyarakat setempat terutama di Raja Ampat.
Padahal Kawasan
Raja Ampat
memiliki kekayaan alam sebesar 75 persen untuk spesies terumbu karang di dunia, 1.400 jenis ikan-ikan karang, dan 700 invertebrata jenis moluska. Beberapa jenis ikan yang ada di Raja Ampat salah satunya adalah pari manta (Mobula birostris).
5. Pencemaran Laut di Bangka Belitung
Sementara di Bangka Belitung, pulau-pulau yang dulunya asri kini berubah menjadi padang rusak akibat penambangan timah, baik legal maupun ilegal. Penambangan darat menyebabkan hutan dan kebun warga tergusur, sementara aktivitas penambangan laut menghancurkan terumbu karang dan ekosistem pesisir. Lumpur dan logam berat dari kapal isap menyebar ke seluruh perairan, menyebabkan hasil tangkapan nelayan menurun drastis. Ironisnya, banyak masyarakat yang dulunya bertani dan melaut kini terpaksa menjadi buruh tambang ilegal demi bertahan hidup
Avit Hidayat, Raden Putri, Ali Umar,
dan
M. Faiz Zaki
berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
