Rupiah Diperkirakan Stabil, Ini Penyebabnya
Jakarta, IDN Times – Kurs rupiah hingga pertengahan Juli 2025 tetap stabil meskipun ada ketidakpastian global yang masih tinggi. Bank Indonesia (BI) memprediksi bahwa kurs rupiah akan tetap stabil dalam waktu mendatang.
Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Juli Budi Winantya mengatakan, nilai tukar rupiah cenderung menguat sebesar 0,34 persen pada bulan Juni dibandingkan posisi akhir Mei 2025. Hingga pertengahan Juli tahun ini, nilai tukar rupiah tetap stabil.
Perkembangan nilai tukar rupiah didukung oleh konsistensi kebijakan stabilisasi Bank Indonesia dan aliran modal asing yang terus berlangsung, khususnya pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN), serta konversi valuta asing menjadi rupiah oleh para eksportir setelah penerapan penguatan kebijakan pemerintah terkait Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA).
1. Kurs mata uang rupiah diperkirakan akan tetap stabil dalam waktu mendatang
Juli menyampaikan bahwa Bank Indonesia memprediksi nilai tukar mata uang Garuda akan tetap stabil dalam waktu mendatang. Perkembangan rupiah akan mengikuti arah pergerakan mata uang negara berkembang lainnya serta negara maju, kecuali Amerika Serikat.
Perkiraan kurs rupiah terhadap pergerakan mata uang negara-negaraemerging marketmaupun negara maju di luar Amerika Serikat cenderung relatif sejalan dengan pergerakan mata uang negara berkembang dan mitra dagang utama kita,” katanya dalam Editors Briefing di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 17-20 Juli 2025, dilaporkan Senin (21/7/2025).
Dampak Tarif Trump, BI Memprediksi Pertumbuhan Ekonomi Global Melambat di Semester Kedua
2. Faktor yang mendukung kestabilan nilai tukar rupiah di masa depan
Selain itu, penambahan pasokan valuta asing dari para pelaku ekspor juga menjadi faktor pendukung.
Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi, termasuk tindakan di pasar.off shore Non-Deliverable Forward (NDF) dan triple intervention pada transaksi spot, Domestic Non Delivery Forward(DNDF), dan Surat Utang Negara (SUN) di pasar reguler.
Mengenai kebijakan yang disebutkan, BI juga dapat melakukan intervensi valas di pasar tunai dan NDF, serta di luar negeri, serta berperan dalam menjaga stabilitas rupiah. Selain itu, melakukan pembelian SBN di pasar kedua,” katanya.
Selain itu, untuk meningkatkan efektivitas kebijakan dalam menarik arus masuk investasi portofolio asing serta mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, Bank Indonesia akan memaksimalkan seluruh instrumen moneter, termasuk penguatan strategi operasi moneter berbasis pasar melalui optimalisasi instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valuta Asing Bank Indonesia (SVBI), dan Sukuk Valuta Asing Bank Indonesia (SUVBI).
3. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih menguntungkan dibandingkan pertumbuhan ekonomi dunia
Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester kedua tahun ini akan lebih baik meskipun prospek perekonomian global melemah, khususnya di negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS), Eropa, dan Jepang.
“Melihat kondisi ekonomi global ke depan dengan memperhitungkan berbagai risiko, kami memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 sebesar 4,6 hingga 5,4 persen, dan di semester kedua kami mengharapkan kondisi ekonomi ini akan lebih baik,” ujar Juli.
Ia menjelaskan, peningkatan kondisi ekonomi nasional didorong oleh ekspor dan permintaan dalam negeri yang sejalan dengan hasil negosiasi tarif dengan pemerintah Amerika Serikat. Selain itu, juga didukung oleh kebijakan fiskal pemerintah terkait bantuan perlindungan sosial (parlinsos) serta pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN).
Dengan bantuan tersebut, perekonomian Indonesia pada tahun ini diperkirakan akan berkembang antara 4,6 persen hingga 5,4 persen.
BI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Semester II-2025 Lebih Baik


