Pernyataan BMKG: Hujan Masih Mengguyur Jabodetabek Beberapa Hari Ke Depan
Banyak wilayah, termasuk Jabodetabek, masih sering dilanda hujan lebat dalam beberapa hari terakhir, meskipun sudah memasuki bulan Agustus yang biasanya merupakan musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atauBMKGmemprediksi intensitas hujan akan terus berlangsung di berbagai wilayah selama musim kemarau ini.
BMKG memprediksi hujan dengan tingkat kelembapan rendah hingga sedang akan mengguyur sebagian besar wilayah Jabodetabek pada pagi hari, Senin, 11 Agustus 2025. Setelah diperkirakan berhenti pada siang hari, hujan kemungkinan kembali turun pada sore hingga malam hari.
Berdasarkan prediksi terkini BMKG, hujan ringan di Jakarta akan terjadi secara tidak merata, sementara daerah sekitarnya cenderung mengalami curah hujan yang lebih merata. Cuaca sebelum dan setelah hujan diperkirakan masih didominasi oleh awan tebal.
Di Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, dan Jakarta Utara, hujan lebat diperkirakan terjadi pada pukul 07.00 WIB selama beberapa jam, kemudian kembali turun antara pukul 16.00 hingga 22.00 WIB. Kondisi serupa diprediksi terjadi di Kepulauan Seribu.
Suhu udara di seluruh wilayah Jakarta berada antara 24–31 derajat Celsius dengan kecepatan angin 1–11 kilometer per jam. Tingkat kelembapan udara diperkirakan berkisar antara 70–95 persen, sesuai dengan prakiraan yang dikeluarkan oleh BMKG pukul 19.00 WIB kemarin.
Di kawasan Jabodetabek yang termasuk dalam Provinsi Jawa Barat, hujan ringan hingga sedang, serta bisa disertai dengan petir, kemungkinan terjadi di Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, Kabupaten Bekasi, dan Kota Bekasi. Curah hujan diperkirakan turun secara merata sejak pukul 07.00 WIB, sempat berhenti, lalu kembali terjadi pada pukul 13.00 WIB hingga malam hari.
Suhu di Kabupaten Bogor mencapai kisaran 17–31 derajat Celsius, sedangkan di Kota Bogor, wilayah Bekasi, dan Depok berada pada kisaran 19–31 derajat Celsius, dengan kecepatan angin antara 4–10 kilometer per jam.
Di sisi lain, di Banten, hujan lebat hingga sedang diperkirakan mengguyur Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Tangerang Selatan sejak pagi. Suhu di tiga daerah tersebut diperkirakan berada pada kisaran 23–31 derajat Celsius.
BMKG mengungkapkan bahwa aktivitas Monsun Australia pada bulan Juni hingga September menjadi penyebab utama musim kemarau di wilayah selatan ekuator Indonesia. Peristiwa ini ditandai dengan cuaca yang kering, suhu lebih sejuk di malam hari, angin yang kencang, serta kemungkinan terjadinya hujan deras.
Kepala Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramadhani, menyampaikan pada awal Juli bahwa masyarakat sebaiknya waspada terhadap kemungkinan hujan deras di beberapa daerah pada 2–5 Juli 2025, seperti yang dilaporkan oleh Antara.
Menurut Andri, Monsun Australia merupakan angin musiman yang berhembus dari Benua Australia ke arah utara melewati Indonesia. Angin ini membawa udara yang kering dan agak dingin karena berasal dari Australia yang sedang mengalami musim dingin.
Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa dampak yang paling terasa berada di wilayah selatan Indonesia, seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Di daerah tersebut, curah hujan menurun sehingga memasuki musim kemarau, dengan suhu udara pada malam hingga pagi hari lebih rendah dibandingkan biasanya.
Selain itu, musim hujan Australia menyebabkan angin yang lebih kencang, khususnya di pantai selatan. Meskipun demikian, pada tanggal 2–5 Juli diperkirakan akan terjadi hujan deras di beberapa wilayah, termasuk Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, dan Papua Selatan.
BMKG memperkirakan kemungkinan hujan deras ini berdasarkan anomali radiasi gelombang panjang (Outgoing Longwave Radiation/OLR) yang menunjukkan angka negatif, menandakan bahwa langit lebih banyak tertutup awan.
BMKGjuga mengingatkan bahwa cuaca kering yang berlangsung lama akibat Monsun Australia dapat meningkatkan risiko kekeringan, mengganggu pasokan air dan sektor pertanian, serta memperbesar kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan di daerah yang rentan.
M. Faiz Zaki dan Antara berperan dalam penyusunan artikel ini.
