Berita Terbaru

OJK Perlahan Kurangi Pertumbuhan Kredit

OJK Perlahan Kurangi Pertumbuhan Kredit

KORAN – 10drama.com –Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar menyampaikan bahwa OJK mengubah target pertumbuhan kredit perbankan pada tahun 2025 menjadi sebesar 8,99%, lebih rendah dibandingkan proyeksi awal yang mencapai 10,05%.

Revisi tersebut berkaitan dengan prospek kondisi ekonomi pada semester II/2025. Menurutnya, hal ini sesuai dengan tren penyaluran kredit yang lebih moderat di berbagai segmen, meskipun risiko kredit secara keseluruhan tetap terkendali dengan rasio kredit gagal atau non-performing loan (NPL) industri berada pada tingkat 2,28%.

“Namun, NPL UMKM menunjukkan angka yang cukup tinggi, yaitu 4,53%,” ujar Mahendra dalam pernyataannya di Jakarta, Minggu 24 Agustus 2025.

OJK mencatat, pertumbuhan kredit sektor pada Juli 2025 sebesar 7,03% secara tahunan, mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 7,77%. Pada periode yang sama, kredit perusahaan juga menurun menjadi 9,56% dari 10,78% secara tahunan (year on year/yoy), sementara kredit UMKM hampir tidak berubah di angka 1,81% setelah Juni tumbuh 2,18%.

Situasi ini akhirnya memicu OJK untuk menurunkan proyeksi kredit dalam revisi rencana bisnis bank (RBB) yang diajukan bulan ini. Di sisi lain, pertumbuhan dana pihak ketiga diperkirakan akan mencapai 9,96% (yoy), yang direvisi dari RBB sebelumnya yang diperkirakan sebesar 12,18% (yoy).

Di sisi lain, ekonom dari Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto menyatakan bahwa penurunan target tersebut sebenarnya tidak perlu dianggap sebagai hal yang negatif. Dasar pertumbuhan kredit tahun lalu sudah sangat tinggi, sehingga kenaikan tahun ini meskipun hanya 7%-8% (yoy) tetap menunjukkan pertumbuhan yang baik.

Ia menilai, mengingat situasi ekonomi global maupun nasional yang masih dalam kondisi ‘biasa saja’ atau relatif biasa, pencapaian pertumbuhan tersebut sudah cukup baik.

Ryan juga menegaskan bahwa fungsi intermediasi keuangan tidak boleh hanya dilihat dari sisi perbankan. Menurutnya, pendanaan berasal dari berbagai jalur lain, mulai dari pasar modal melalui IPO, penerbitan obligasi, hingga peer to peer lending dan security crowd funding.

“Jika dijumlahkan dengan dana yang naik dari pasar modal, IPO, obligasi, fintech, dan pendanaan koin keamanan, pertumbuhan absolut bisa mencapai 9%, 10%, bahkan 11%, jadi jangan hanya menganggap intermediasi berasal dari bank,” ujar Ryan.

Sektor baru

Mengenai sektor pembiayaan, Ryan menekankan bahwa perbankan selalu mengikuti arah perkembangan ekonomi. Menurutnya, lima sektor utama yang paling banyak menerima dana tetap adalah manufaktur, pertanian, perdagangan, infrastruktur, dan konstruksi.

Namun, ia melihat adanya sektor yang menjanjikan dalam beberapa tahun mendatang, yaitu kesehatan dan pendidikan. “Setelah wabah Covid-19, pengeluaran untuk kesehatan dan perawatan diri meningkat tajam, sedangkan biaya pendidikan semakin tinggi. Itu adalah peluang besar,” katanya.

Selain itu, perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin berubah menyebabkan sektor jasa, termasuk layanan pengiriman dan logistik, berkembang pesat dan layak menjadi fokus pendanaan. Perbankan dapat menyesuaikan arah pendanaan sesuai dengan prioritas keuangan pemerintah.

Ia menekankan pentingnya bank mengalokasikan kredit kepada sektor-sektor yang menjadi fokus anggaran negara. “Maka dari itu, delapan prioritas tersebut harus menjadi sasaran perbankan,” tambahnya.

Ryan menunjukkan salah satu program pemerintah berupa penyediaan makanan bergizi gratis yang dianggapnya memiliki potensi besar. Program ini pantas mendapatkan dukungan pendanaan dari perbankan.

Namun, Ryan mengingatkan agar perbankan tetap memegang prinsip kehati-hatian dalam mendistribusikan pembiayaan dengan menerapkan prinsip 5C, yakni character, capacity, capital, condition, dan collateral.

Bank juga perlu memperhatikan tiga pilar penilaian kelayakan kredit, yaitu prospek bisnis, kemampuan pembayaran, serta dukungan dari kelompok usaha.

Bagikan Artikel

Berita Terkait