Fenomena Baru: Blackberry Bangkit di Tangan Gen Z, Ini Spesifikasi Lengkap Zinwa Q25 Pro
Warta Bulukumba– Di sebuah kafe kecil di Jakarta, seorang mahasiswa Gen Z terlihat sibuk menggunakan ponselnya dengan trackpad kecil di tengah layar. Secara sekilas, ia mengingatkan pada Blackberry Classic dari tahun 2000-an. Namun, ketika layarnya menyala, terlihat antarmuka Android 13 yang berjalan lancar. “Ini adalah versi baru Blackberry,” katanya sambil tersenyum bangga, seolah menemukan kembali simbol eksklusif yang dulu hanya dimiliki oleh para eksekutif dan selebritas.
Peristiwa ini bukan sekadar ilusi. Blackberry, ponsel yang pernah dianggap punah akibat persaingan ketat dari iPhone dan Android, kini benar-benar “dihidupkan” kembali oleh Zinwa Technologies, sebuah perusahaan asal Tiongkok. Mereka meluncurkan Zinwa Q25 Pro, yaitu modifikasi dari Blackberry Classic Q20 dengan teknologi terbaru.
Yang ditawarkan bukan hanya sebuah ponsel. Ini adalah kenangan yang dihidupkan kembali: perpaduan antara masa lalu dan masa kini, berusaha memenuhi rasa rindu para penggemar lama sekaligus menarik rasa penasaran generasi baru yang tumbuh di era layar sentuh.
Sentuhan baru pada tubuh yang sudah lama
Secara desain, Zinwa Q25 Pro tetap mempertahankan ciri khas Blackberry Classic: layar sentuh kecil yang dilengkapi keypad fisik QWERTY dan trackpad ikonik. Perbedaannya terletak pada spesifikasi internalnya yang kini menggunakan chipset MediaTek Helio G99, RAM 12GB, serta memori internal hingga 256GB.
Sistem operasi Android 13 berfungsi sebagai inti utama. Kombinasi ini menggabungkan pengalaman klasik Blackberry secara mulus dengan ekosistem modern Android, mulai dari aplikasi media sosial hingga kebutuhan produktivitas.
Dari segi daya, kapasitas baterai meningkat sekitar 15 persen dibanding versi sebelumnya. Kamera belakang 50MP dan kamera depan 8MP menjadi fitur utama, mengikuti tren generasi muda yang selalu terlibat dalam aktivitas foto dan video.
Port USB Type-C, tetapi belum mendukung 5G
Zinwa juga melakukan perubahan signifikan: port micro USB lama diganti dengan USB Type-C, sehingga proses pengisian dan transfer data menjadi lebih cepat. Namun, ada satu hal yang masih belum terpenuhi: perangkat ini belum mendukung 5G, hanya memperoleh jaringan 4G LTE.
Pertanyaan muncul: apakah generasi Z, yang terbiasa dengan kecepatan internet yang sangat cepat, akan menerima keterbatasan ini?
Trackpad legendaris masih bertahan
Bagi penggemar Blackberry, berita baik datang dari fitur trackpad fisik. Fitur ini tidak hanya menghadirkan rasa nostalgia, tetapi juga menjadi keunggulan tersendiri. Di tengah era ponsel yang serba layar sentuh, trackpad memberikan pengalaman berbeda—mengetik pesan panjang terasa lebih nyaman, serta mengakses layar menjadi lebih akurat.
“Trackpad adalah simbol. Jika hilang, Blackberry bukan Blackberry lagi,” kata seorang penggemar ponsel klasik di forum online.
Harga dan Kit DIY: Blackberry Kustom
Zinwa menawarkan Q25 Pro dengan harga US$400 (Rp6,5 juta). Selain itu, perusahaan juga menyediakan kit DIY seharga US$320 (Rp5,1 juta) untuk pengguna yang ingin “mengubah” Blackberry Classic lama menjadi versi terbaru.
Model bisnis ini cukup menarik. Ia tidak hanya menjual barang baru, tetapi juga menyediakan tempat bagi komunitas penggemar Blackberry untuk “menghidupkan” koleksi lama mereka.
Pengiriman pertama direncanakan untuk 100 pelanggan pertama di akhir Agustus, sebelum produksi massal dimulai pada pertengahan September. Jika berhasil, Zinwa mengatakan akan mempertimbangkan untuk menghidupkan kembali model lain, seperti Passport dan KeyOne.
Blackberry menjadi tren kalangan Gen Z
Kemudian, mengapa Blackberry tiba-tiba kembali diminati? Jawabannya terletak di media sosial. Di TikTok, hashtag #blackberry telah digunakan ratusan ribu kali. Generasi yang saat Blackberry sedang tren masih duduk di bangku sekolah dasar kini penasaran mencoba sensasi “eksklusif” ponsel dengan keypad fisik ini.
Bahkan, terdapat sebuah petisi daring yang muncul, meminta agar Blackberry “dihidupkan kembali.” Peristiwa ini menunjukkan bahwa rasa nostalgia tidak hanya dimiliki oleh kalangan tua, tetapi juga bisa menjadi tren baru di kalangan pemuda.
Menurut ahli tren teknologi, perkembangan Blackberry mengikuti pola yang sama dengan tren kamera analog, kaset pita, atau musik piringan hitam. Nostalgia sering muncul kembali dalam siklus, dengan sentuhan modern agar tetap relevan.
Kehadiran Zinwa Q25 Pro bukan hanya sekadar kembalinya sebuah ponsel, tetapi juga sebuah percobaan budaya. Apakah Blackberry dapat kembali menjadi perangkat utama di tengah dominasi iPhone dan Android? Atau hanya akan menjadi barang koleksi yang penuh dengan kesan romantis?
Jawaban mungkin akan terlihat setelah perangkat pertama tiba di tangan konsumen akhir pada Agustus mendatang. Jelas, satu hal pasti: Blackberry bukan lagi sekadar kenangan lama, melainkan simbol bahwa nostalgia bisa menjadi barang dagangan masa depan.
